Kamis, 12 Maret 2020

PENTIGRAF




ASESMEN MENURUT SAYA
[Terkait Ihwal Memoar Randigari]
Pentigraf Kusfandiari Abu Nidhat






Pada pelatihan menulis sebelumnya, disepakati bahwa para peserta menyusun “memoir” (waktu saya mengetik “memoar” mesti berubah “memoir”). Pak Fajar Budhianto, Ketua IGI Ngawi mengisyaratkan masing-masing menyerahkan sebelum pertemuan kedua. Bagi saya, ini hal baru. Sebelumnya saya melalang ke dunia puisi dan cerita pendek. Bedakah dengan memoir? Memang beda. Terbayang saya mengalami kesulitan untuk menyusun kisah seputar pembelajaran yang saya alami. Saya telah mencatat dan menemukan kembali di folder-folder ColorNote saya berupa segmen-segmen pembelajaran. Karena sewaktu menyelenggarakan pembelajaran digital, sambil berkeliling untuk memantau perkembangan para siswa menyelesaikan tugas, saya “nyambi” menulis di ColorNote. “Ah, ini saja!” pikir saya kemudian. Beberapa segmen saya kumpulkan jadi satu di dokumen Words format A5 font 10 Book Antiqua, bukan Times New Roman. Praktis tanpa editing, lalu saya setorkan via japri WhatsApp. Tidak berselang lama, Pak Fajar berpesan,”Pak Ari, memoarnya mohon diberi dialog.” Saya langsung tanggap. Yang berarti bahwa saya harus mengubah struktur penceritaan datar yang bersistem menjadi pengisahan yang melibatkan dialog dan emosi. Saya ubah total. Dan ini butuh waktu, maksud saya di sela-sela saya sibuk ini dan itu. Tidaklah mengapa.

Lalu saya teringat tentang istilah “ulangan” atau “ujian” yang kelak diganti dengan “asesmen”. Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis, “Asesmen ialah proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapinya saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.” Saya tidak bermaksud menguraikan definisi ini. Saya hanya ingin menghayati bagaimana saya harus terlibat dalam suatu asesmen, yaitu saya sadar diri untuk menyusun memoir. Dan hal ini bisa saya lakukan. Judul saya pertahankan “Randigari” yang merupakan akronim dari “Pembelajaran Digital Versi Pak Ari” sedangkan format awal yang berupa A. Memasuki Babak Baru Pembelajaran Digital, B. Hikmah Mengajar di Kelas IX, dan seterusnya, saya ubah tanpa penomoran. Berubah jadi Euforia Pembelajaran Digital, *Pak, Saya Sudah Selesai*, *Memalak*, Layar Retak, Password-nya, Pak, Meringankan Segalanya, Razia Ponsel.

Saat ini saya tidak bisa mengisahkan secara tragis dramatis. Untuk sementara saya telah kehabisan air mata. Yang saya tuju bahwa saya lagi menghayati,”Ahaa seperti inikah asesmen?!” Jika memang asesmen seperti ini, maka di bawah kepemimpinan Pak Fajar, IGI Ngawi bakal menjadi pioneer dalam meneladani asesmen. Tidak usah ulangan harian, tidak usah penilaian tengah semester, tidak usah penilaian akhir semester. Yang penting, si anak bisa menyelesaikan tugas dengan paripurna. Mereka lolos audisi. Ya sudahlah, luluskan mereka! Kasih nilai yang bagus! Bukukan hasil karyanya! Bahagia dan bangga bersama. Itu saja.

Jumat, 06 Maret 2020

TELAAH BUDAYA MATARAMAN (BUDAYA BUMI OREK-OREK)


Kawasan kebudayaan di Jawa Timur menurut Heru SP Saputra dibagi menjadi 6 wilayah yaitu kebudayaan Arek (Surabayan), kebudayaan Tengger, kebudayaan Madura, kebudayaan Mataraman, kebudayaan Pendalungan dan kebudayaan Using. Budaya Ngawi (Bumi Orek-Orek) merupakan salah satu bagian dari budaya Mataraman. Tentu saja kalau kita amati banyak sekali keragaman budaya dalam balutan kearifan lokal yang ada di Kab.Ngawi.
Dalam hal tersebut penulis mendapatkan amanah bersama Tim Dinas Kearsipan Daerah dan Perpustakaan Kab.Ngawi yaitu Bapak Slamet bersama Bapak Suyatno sebagai Kabid perpustakaan. Bersama beliau kami memadukan konsep yang akan kami sampaikan kepada narasumber utama yaitu Drs. Sudjono,M.M yang menjabat kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur.Setelah beberapa diskusi, artikel yang kami sodorkan mendapatkan masukan untuk diperbaiki. 
Kamis pagi hari setelah subuh, tanggal 5 Maret 2020, kami berangkat pada acara telaah Budaya di Yogyakarta. Walaupun hujan gerimis, selama perjalanan sekitar 3 jam, akhirnya kami tiba tepat waktu  di Balai Ghratama Pustaka. Tampak sudah menunggu di depan lobi sosok yang berwibawa dengan senyuman ramah melambai kepada kami. Ya…beliau adalah Pak Jono. Walau sebagai Kabid Provinsi dengan pangkat Pustakawan Ahli Utama dan pernah menjabat menjadi Pj Bupati Ngawi dan Nganjuk, tidak menampakkan aura pembatas antara sosok pemimpin dan bawahan. Justru beliau sangat ramah dan sesekali mengajak kami bercanda di antara tamu lain yang ada.
Peserta telaah budaya ini dihadiri oleh perwakilan 6 Provinsi di Jawa, yaitu DIY, Jatim, Jateng, Jabar, Banten,dan DKI.Selaian itu tampak pustakawan, mahasiswa dan  budayawan. Kebetulan penulis sempat berbincang share dengan Pak Singgih Budayawan Yogya yang berasal dari Ngawi.
Acara digelar oleh Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Budaya Panji Dan Budaya Mataraman di Jawa Timur” (5/3) di Ruang Seminar Grhatama Pustaka ini, selain Bp.Jono sebagai narasumber dalam membawakan materi sharing dengan tim Arsipda Ngawi, juga dihadiri narasumber lain yaitu  Budayawan dari Sidoarjo yaitu Bapak Henri Cahyono yang membawakan tema Budaya Panji.
Adapun rincian materi telaah budaya terangkum sebagai berikut:
Perpustakaan berdasarkan UU Perpustakaan nomer 43 tahun 2007, Pasal 1, ayat 1)adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka, Sedangkan jenis-jenis perpustakaan:Perpusnas RI, Perpustakaan umum, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Perpustakaan khusus, Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.
Definisi budaya menurut KBBI merupakan Pikiran, akal budi atau adat istiadat; hasil kegiatan dan penciptaan batin atau akal budi manusia, misalnya  kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.
Sedangkan menurut Koentjaraningrat budaya merupakan hal- hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.
 Ragam budaya mencerminkan identitas  suatu negara. Dapat meliputi  pakaian, bahasa, rumah adat, maupun makanan dsb.  Sedangkan ragam budaya Indonesia  merupakan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia dalam tautan Bhinneka Tunggal Ika
                Definisi literasi adalah kemampuan seseorang mengumpulkan informasi dari sumber-sumber bacaaan berupa buku, koran, majalah serta sumber-sumber lainnya. Kemampuan seseorang memahami yang tersirat dari yang tersurat dan kemampuan seseorang mengemukakan ide-ide sesuai informasi dan pengetahuan yang dimiliki.
Dalam hal pelestarian budaya, maka perlu mengkaji periodisasi generasi. Alasannya adalah perkembangan pesat teknologi membawa dampak positif dan negatif perilaku bagi generasi tersebut.
Adapaun dampak perubahan budaya membaca adalah minat baca berkurang, anak cenderung suka melihat gambar daripada membaca tuntas buku bacaan dan terjadi transformasi membaca melalui gadget smartphone yang lebih diminati. Oleh karena itu perlu adanya link connector antara untuk menangkal budaya negatif perilaku remaja dengan kearifan lokal.
Kata Ngawi berasal dari Bahasa sanskerta kata “awi” yang berarti bambu dan mendapatkan inmbuhan kata “ng:” menjadi ngawi. Kenapa Ngawi  disebut Bumi Orek-Orek?
Ngawi dikenal sebagai Bumi Orek Orek sejak tahun 1980an. Sebab adanya Tari Orek Orek yang sejak 1960an tumbuh subur dan berkembang dimasyarakat luas. Hampir disetiap acara tari ini selalu dipentaskan.  Tarian dengan gerak dinamis dengan pemain terdiri dari pria, wanita berpasangan. Menggambarkan muda mudi masyarakat desa yang sehabis kerja berat gotong royong, melakukan tarian gembira ria untuk melepaskan lelah.
Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah daerah Kab.Ngawi adalah menerapkan branding budaya yang dikenal dengan istilah “Branding Budaya Bumi Orek-Orek” .Branding budaya merupakan sebuah terobosan atau usaha dalam hal pengenalan kearifan lokal yang berupa cerita, tempat ataupun sejarah yang terdapat di Bumi Orek-Orek atau Ngawi “Ramah” kepada generasi muda untuk mendapatkan nilai-nilai edukasi yang berkarakter positif dalam pelestarian budaya. Oleh karena itu perpustakaan dapat berperan juga sebagai mediator dalam menggali branding budaya tersebut. Contoh kegiatan ini adalah dengan melakukan pendataan kearifan lokal yang ada lalu dikumpulkan dalam sebuah buku. Cara ini juga mudah dilakukan, yaitu dengan berkolaborasi dengan penulis untuk mengumpulkan data kearifan lokal yang ada untuk dikemas dalam bentuk tulisan bertemakan kearifan lokal setempat.
Dengan adanya data kearifan lokal tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai tali penghubung bagi generasi jaman now yang mengalami modernisasi gadget dan tidak kenal tentang apa itu sejarah maupun cerita nina bobo saat menjelang tidur. Selain itu dapat digunakan untuk mengenalkan dan mengajarkan falsafah sosial dan budaya dari nilai-nilai isi cerita di “Bumi Orek-Orek” yaitu  Kabupaten Ngawi.
Nilai pelestarian lingkungan, misalnya adanya sumber air atau “sendang” di pinggir sungai yang merupakan sebagai bagian alam wajib dipelihara dan dilestarikan. Termasuk lingkungan di sekitar sendang yaitu sungai dan hutan maka wajib di dukung sepenuhnya sebagai bagian masyarakat yang peduli terhadap pelestarian lingkungan. Nilai pelestarian ini juga terlihat dengan usaha penangkaran rusa di Monumen Suryo,
Beberapa tempat yang mempunyai hubungan dengan budaya juga banyak dijumpai di Ngawi misalnya Benteng Pendem Van Den Bosch pada masa era Perang Diponegoro, Museum Trinil tempat ditemukannya manusia purba Pytecantropus erectus dan situs arca hindu di Kecamatan Widodaren yang semua tempat tersebut juga mempunyai
Nilai budaya lain seperti kerjasama dapat terlihat dalam keseharian masyarakat seperti melakukan bakti di lingkungan sekitar misal balai desa, mushola, masjid. Dalam istilah jawa kerjabakti ini disenut “Gugur gunung” atau disebut juga sebagai “bina lingkungan” Bina lingkungan ini merupakan salah satu bentuk kemitraan warga setempat sebagai sistem sosial yang merupakan bagian dari struktur masyarakat
Nilai kepemimpinan dan nasionalisme dapat terlihat dari situs peninggalan Dr. Radjiman atau biasa di sebut sebagai Situs Kanjeng Dirgo. Nilai ini terlihat dari usaha beliau dengan memperjuangkan kemerdekaan melaui organisasi kebangsaan dan bidang kedokteran. Jiwa kepemimpinan ini juga terlihat seperti cerita tentang Mbah Wo Karsorejo, seorang tokoh lokal yang memberikan contoh sebagai pemimpin yang mau mencintai dan dekat dengan rakyat.
Cara lain dalam hal branding budaya adalah melakukan kolaborasi dengan seniman dalam menciptakan karya. Karya tersebut dapat berupa lagu, puisi maupun tari yang juga mempunyai tema kearifan lokal tempat di Ngawi. Beberapa lagu yang ngehits mulai bermuculan dari usaha branding budaya ini yang dilakukan oleh para generasi muda seperti Deny Cak Nan dengan lagu “Kartonyono Medot Janji” dan Talita Salsabila yang masih berstatus pelajar SMP dengan lagu “Taman Dungus” dan “Kota Ngawi”. Tempat lain misalnya Kebun Teh Jamus juga dijadikan lirik lagu oleh Darsono dan sempat dinyanyikan oleh penyanyi dangdut terkenal yaitu Via Vallen. seniman senior juga telah lama mengangkat lagu bertemakan tempat di Ngawi misal Didi Kempot dengan lagu Terminal Kertonegoro.
Bahkan Bupati Ngawi Ir.H. Budi Sulistyono atau biasa dipanggil “Mbah Kung” mencetuskan program “Sangawiah”, yaitu “Salam Ngawi Ramah” sejak tahun 2012.   Salam Ngawi Ramah ini dilakukan dengan cara pembiasaan jika dalam suatu acara atau pada saat kegiatan memberikan salam “Assalamualaikum warakhmatulahi wabarakatuh” dan audien menjawab “Wassalamualaikum warakhmatulahi wabarakatuh” dan setelah menjawab langsung diiringi dengan aplaus tepuk tangan bersama-sama. Sangawiah dilaksanakan di setiap kegiatan di instansi pemerintahan maupun kunjungan masyarakat dalam setiap sambutan ataupun kegiatan di sekolah, intansi dinas maupun kegiatan kemasyarakatan melakukan pembiasaaan dengan cara mengucapkan salam ramah tersebut.
Dari beberapa kajian di atas dengan melihat adanya berbagai ragam kearifan lokal sebagai cerminan budaya  di masyarakat Ngawi tentu merupakan keunikan yang perlu kita lestarikan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Furdyantanta (2008: 44) bahwa kearifan lokal merupakan ranah budaya manusia, dimana fungsi jiwa manusia dapat terbagi menjadi fungsi kognisi (cipta), afeksi (perasaan) dan konasi (karsa). Tiga Fungsi tersebut atau dikenal dengan istilah trisakti dalam perpaduan yang harmonis menjelma menjadi budi pekerti manusia. Dimana budi perkerti manusia merupakan bagian budaya karakter yang baik, terlebih untuk menangkal budaya luar yang dapat merusak moral generasi bangsa. Oleh karena itu dengan mengenalkan budaya terhadap generasi muda adalah cara yang baik untuk melestarikan budaya leluhur kita di “Bumi Orek-Orek”.


                                                                                                                           

                                                                                                                                        HTW




Selasa, 25 Februari 2020


SUKIR GURU "INSPIRATOR"

Pak Sukir memang seorang guru di daerah terpencil tepatnya di SMP Negeri 2 Bringin Ngawi yang terletak di ujung timur Kabupaten Ngawi. Namun keterpencilanya tidak menghalangi untuk selalu berkarya. Pemikiran dan karyanya yang luar biasa mampu menginspirasi banyak orang terutama para guru dan anak-anak muda. Betapa tidak, dalam kurun waktu satu bulan beliau diekspose oleh Radar Ngawi sebagai seorang youtuber berkonten pendidikan kini dinobatkan sebagai Juara III Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan PWI Kabupaten Ngawi.
Pemikiran dan ucapan beliau selama ini lekat dengan pendidikan, budaya dan peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama guru. Oleh karenanya tidak mengherankan jika selama ini ia dipercaya sebagai trainer dalam pengembangan metode dan media pembelajaran. Kejelian dan kecermatan dalam menangkap fenomena sosial juga tidak lepas dari pengamatanya sehingga memunculkan karya-karya dalam bentuk artikel yang sangat menarik.
Melalui sebuah artikel yang berjudul Kabupaten Ngawi dintara Pesona Alam dan Budaya inilah beliau bisa memperoleh juara III dalam lomba menulis artikel yang diselenggarakan oleh PWI Kabupaten Ngawi dalam rangka memperingati hari Pers Nasional Tahun 2020. Dalam Artilel tersebut, beliau mendeskripsikan Kabupaten Ngawi yang sarat akan keindahan alam dan budaya. Dalam hal keindahan alam beliau membagi Ngawi dalam tiga zona yakni selatan yang identik dengan alam pengunungan, zona tengah yang identik dengan alam buatan dan zona utara yang identik dengan pesona daerah kapurnya. Sedangkan dalam pesona budaya  beliau juga menjelaskan bahwa Ngawi memiliki budaya budaya tradisi yang sarat akan nilai filosofis, edukasi, maupun religi. Keindahan alam dan budaya tersebut jika dikelola secara profesional selain menjadi destinasi wisata juga akan menjadi sumber pendapatan daerah yang luar biasa. Kemampuan menganalisis permasalahan dan alternatif pemecahan masalah secara cermat dan bijak adalah konsep tindakan beliau.  
Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2020 ternyata menjadi momen yang indah karena ketika beliau menjadi Juara III menulis Artikel ternyata anak kedua beliau justru menjadi Juara I membuat Vidio Vlog Pesona Wisata Ngawi di ajang yang sama. Sungguh luar biasa, ibarat sebuah pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonya.
Patut diketahu bahwa semua keluarga beliau bergelut dalam dunia maya. Istri beliau R. Ninik Prastyowardani selain sebagai guru SD Negeri Jururejo 2 Ngawi ternyata juga seorang Blogger. Belum satu minggu merilis blog “SOAL-SOAL SD” pengunjungnya sudah ribuan. Blog ini berisi soal-soal latihan untuk siswa SD kelas 1 sampai 6 yang dikemas dalam google form sehingga siswa sekolah dasar Ngawi dan bahkan Indonesia bisa berlatih soal sekaligus mengetahui nilainya. Tentu blog ini sangat membantu Dinas Pendidikan yang sedang gencar menyosialisasikan ujian sekolah dasar secara online.
Putra pertama dari Pak Sukir adalah seorang programmer yang professional. Web Lektur.ID  yang dikelolanya setiap hari dibuka lebih dari 100.000 pengunjung. Bahkan dalam waktu dekat akan merilis sebuah Web berkonten teknologi yang berhubungan dengan perkembangan Gedjet di Indonesia gadgetlogi.ID. Putra pertama beliau ini memang sangat mandiri, mulai dari SMA sampai lulus S1semua kebutuhan bisa dicukupi sendiri tanpa minta orang tua dan bahkan selalu membantu orang tuanya.
Sedangkan putra kedua adalah seorang youtuber, vidiografer dan fotografer. Kemampuan mempresentasikan hasil karya mulai dari menyusun naskah, pengambilan gambar sampai proses editing sudah tidak diragukan lagi. Hasil vidiografer mulai dari prewed sampai vidioklip lagu sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Karya putra kedua Pak Sukir bisa dilihat dalam youtube dan yang menjadikan juara 1 pelajar yaitu Vidio Vlog Benteng Pendem bersama dua orang temanya. Dan yang membanggakan putra kedua Pak Sukir ini juga dipercaya KPU Ngawi untuk membuat Klip bertema Pemilukada yang dalam waktu dekat akan segera dirilis.
Pak Sukir dan keluarga adalah sosok keluarga yang secara bersama-sama mampu memenej penggunakan internet untuk mengembangkan bakat dan berbagi pengetahuan. Ibarat dua sisi mata uang, Pak Sukir  mampu memanfaatkan sisi positif dari internet. Dan hal inilah yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita bahwa dibalik sisi negatif internet ada sisi positif yang bisa dimanfaatkan. Terus berkarya Pak Sukir, karena karyamu bisa memberi inspirasi bagi pembaca. Engkaulah …. Inspirator! Aamiin

SMPN 2 KASREMAN CANANGKAN GERAKAN MEMBACA 165 TOKOH


Ngawi. Senin 24 Februari 2020 merupakan hari yang memiliki arti tersendiri bagi warga SMPN 2 Kasreman, Ngawi. Pada hari itu seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan dan semua siswa berikrar untuk melakukan bagian dari gerakan literasi, membaca 165 tokoh. Gerakan membaca sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, dijadikan pembiasaan di setiap sekolah. Di SMPN inipun demikian, sejak gerakan literasi nasional diluncukan, membaca 15 menit sebelum mulai pelajaran sudah dilakukan.

Kali ini SMPN 2 Kasreman memberikan inovasi terhadap pembiasaan tersebut, khusus terkait dengan materi bacaan. Jika semula materi atau buku bacaannya adalah buku non teks dengan tema  bervariasi mulai hari itu diganti dengan bahan bacaan berisi sejarah tokoh dunia. Perubahan tersebut bukan tanpa alasan. Siswa siswa saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Terutama pada pengambilan sosok yang diidolakan. Akhir akhir ini bermunculan banyak figur di masyarakat yang tidak dilayak dijadikan panutan. Bahkan figur yang diidolakan tersebut hanya sekedar sosok imajinasi yang tidak ada di realita dan tidak ada konstribusi positif untuk kebaikan dunia. Diharapkan dengan diberi materi bacaan tokoh ini, siswa bisa mengambil nilai baik dan bisa menginspirasi untuk berjuang demi masa depannya.

Sejarah 165 tokoh yang dijadikan sumber bacaan diambil dari berbagai sumber, dipilih yang benar benar bisa diambil nilai perjuangan dan keteladanannya. Ada tokoh agama, negarawan seperti 7 tokoh yang pernah dan masih menjadi presiden Repubilk Indonesia, pahlawan nasional, para penemu dan lain sebagainya. Jumlah 165 tokoh itu disamakan dengan jumlah warga sekolah. Setiap sejarah tokoh diringkas menjadi satu lembar kertas ukuran folio. Setiap hari satu warga sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa, membaca satu tokoh. Jadi bukan hanya siswa saja yang membaca Direncanakan semua tokoh selesai dibaca selama 165 hari secara bergantian.

Dalam kegiatan pencanangan yang dilaksanakan saat upacara bendera hari senin tersebut, kepala sekolah menyampaikan bahwa negara Indonesia punya banyak pejuang dan tokoh yang bisa dijadikan suri tauladan. Jangan sampai generasi sekarang dan yang akan datang tidak bisa mengambil itu. Lebih parah lagi jika tidak kenal dan tidak tahu. “Gerakan membaca tokoh ini penting, harus segera dilakukan. Jika tidak kita akan kehilangan dan salah arah”, begitu tambahnya.

Kegiatan gerakan ini akan dievaluasi secara berkala, dan dikompetisikan. Siapa yang menjadi pembaca terbaik akan diberi hadiah dari sekolah. Indikator dari keberhasilan membaca akan diambil dari inspirasi yang bisa diambil dari setiap tokoh yang ditulis dalam buku catatan tersendiri. Catatan tersebut akan dinilai oleh tim. (FB) 


Senin, 24 Februari 2020

PELATIHAN MENULIS BUKU OLEH IGI KAB.NGAWI





Suasana minggu pagi cerah, tidak seperti biasanya yang mendung.Hal ini seolah memberi semangat bagi peserta kegiatan pelatIhan menulis buku bagi guru yang dilaksanakan oleh IGI Kabupaten Ngawi. Pelatihan ini dilaksanakan 2 pertemuan yaitu IN I tanggal 23 Februari 2020 dan IN II tanggal 1 Maret 2020.
Tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan motivasi kepada guru dengan semangat menulis hingga menghasilkan karya berupa buku. Adapun narasumber pelatihan ini adalah guru penulis  Ngawi yang telah berpengalaman dalam membuat buku.
       Panitia cukup kaget saat target peserta melebihi kuota yang direncakan. Diantara pendaftar kegiatan ada beberapa yang dari luar kota Ngawi,misalnya Madiun,Ponorogo,Malang dan Tuban.Walau ada beberapa peserta luar kota mengkonfirmasi pada pertemuan pertama tìdak bisa hadir dalam kegiatan karena ada kegiatan yang bersamaan pada hari itu di sekolahnya. Bahkan sore hari sebelum hari H pelaksaanaan kegiatan,  salah satu guru dari Nganjuk meminta dimasukan sebagai peserta karena memang sudah lama mengidamkan pelatihan menulis buku. Guru tersebut baru mendapatkan informasi dari grup WA guru Kab.Kediri.
     Setelah regristrasi peserta, tepat pukul jam 08.15 pembukaan kegiatan dilakukan oleh Ketua IGI Kab. Ngawi yang diwakili oleh Bp Eko Iswaji M.Si,karena Bp.Fajar Budhianto,M.Pd selaku ketua , juga menjadi nara sumber kegiatan, sehingga dengan alasan supaya tidak dobel job dalam acara, maka diwakili oleh Pak Eko.
       Nara sumber pertama Bp.Fajar memberikan materi alasan menulis dan bagaimana kiat menulis. Selain sebqgai ketua IGI Ngawi beliau juga seorang editor dan mempunyai  keahlian dalam tata letak mendesain cover buku. Salah satu buku karya beliau yang berjudul “Jangan Panggil Aku” Haji cukup menarik perhatian peserta untuk bertanya jawab. Beliau menyampaikan paling tidak ada dua produk kegiatan pelatihan ini, yaitu  kumpulan antologi peserta kegiatan dalam bentuk memoar dan 1 buku per peserta bisa dalam bentuk fiksi atau non fiksi.
       Narasumber kedua yang tampil adalah  bu Wening yang merupakan penulis multitalen terutama buku yang berbau dengan budaya lokal terutama masyarakat Jawa. Beliau langsung menggebrak peserta dengan membedah 10 buku yang dibuat dengan mengambil satu sampel buku dengan  menunjukkan teknis saat menuliskan buku tersebut. Disini peserta juga saling berargumentasi dengan narasumber sehingga diskusi semakin mengasikkan.
       Narasumber selanjutnya adalah Bp Hery atau biasa dipanggil HTW  oleh teman temannya. Walaupun latar belakang beliau Guru IPA, beliau telah menerbitkan buku-buku karya maupun artikel ilmiah dan non ilmiah. Salah satu bukunya yang memuat kearifan lokal Kab.Ngawi adalah buku dengan judul “Pitutur Eksotika Bumi Orek Orek”.
        Beliau juga memberikan motivasi bagaimana membuat ide sederhana untuk dikembangkan menjadi buku. Beberapa karya tulisnya sering lolos lomba tingkat Nasional, diantaranya menjadi presenter dan pemakalah di P4TK IPA dan Kemdikbud .Bahkan di tahun 2019 menjadi Finalis Inobel kategori Media Pembelajaran bidang MIPA tingkat SMP.
      Narasumber berikutnya adalah Bp Sukir. Beliau merupakan guru dengan pengalaman sebagai editor Jurnal Induksi dan youtober.Salah satu tulisan beliau pernah menjadi artikel pendidikan tingkat Provinsi Jawa Timur. Paparan beliau mengalir dari teori menjadi praktik dengan sistem "generator" yaitu narasumber selain memberikan semangat luar biasa juga dapat mengarahkan audien untuk mengerjakan apa yang diaampaikan.Dengan teknik ini,beliau mengkritìsi praktuk tulisan peserta secara online dengan google docs. Dengan demikian peserta langsung tahu arahan bentuk tulisan dari koreksi langsung saat pelatihan dengan bimbingan beliau.
     Antusias peserta yang terus berdiskusi dengan narasumber tak terasa sampai menjelang sore.Tepat pukul 2.30 kegiatan pertemuan pertama pelatihan menulis buku ditutup dengan doa. Diharapkan pada pertemuan kedua peserta dapat memaparkan refleksi dan tulisan hasil pertemuan IN I untuk dilakukan brainstorming dan pemantapan pada pertemuan selanjutnya. Oke ditunggu ya ... ulasan kegiatan pelatihan IN II, tentu makin asiik dan salam literasi.


                                                                                                                                                   HTW

Kamis, 20 Februari 2020

KUSFANDIARI, GURU ISTIMEWA DARI SMPN I PANGKUR


Pak Kus begitu rekan rekan sesama guru memanggil, ada juga yang memanggil Pak Ari, adalah seorang guru SMPN di salah satu kecamatan kabupaten Ngawi, tepatnya kecaman Pangkur. Tidak berlebihan jika Pak Kus disebut sebagai seorang guru istimewa karena guru seperti beliau memang hanya beberapa saja. Seorang guru yang menyempatkan menulis puisi juga cerita pendek disela sela kesibukan yang cukup padat. Sudah ratusan puisi dan cerpen yang ditulisnya selama menjadi guru. “Saya mengabdi sebagai guru di SMP Negeri 1 Pangkur, sejak 1986, jika menyusun perangkat mengajar merupakan beban dan tanggung jawab yang harus diselesaikan  sesuai tupoksi dan profesi, maka menulis cerita pendek  dan juga puisi merupakan hiburan tersendiri, manakala mengalami suntuk dalam menghadapi para siswa yang juga suntuk menghadapi pembelajaran yang mungkin dirasa monoton” ungkap Pak Kusfandiari.


Pada tahun 2002 sampai dengan 2003, Pak Kus pernah menjadi wartawan lepas (free lancer) di harian Ngawi Post. Menurut beliau dunia jurnalistik berbeda dengan dunia cerita pendek. Namun bagi penulis, gabungan teks jurnalistik bisa diolah menjadi teks cerita pendek yang menarik. Selama bergaul dengan teman-teman sekantor, beliau memperoleh masukan baik informasi, maupun karakter dari mereka. Semua “direkam” untuk dijadikan bahan dalam menyusun puisi dan cerita pendek . Hal itu dilakukan cukup lama. Sehingga diujung masa tugasnya sebagai guru negeri, jumlah puisi dan cerpennya cukup banyak. Tidak ingin hasil karya tersebut hilang dan sia sia, beliau memgumpulkannya menjadi buku. Al-hasil melalui kerjasa sama dengan Komunitas Guru Penulis Ngawi (KGPN) terbitlah dua buku Antologi Puisi “Kaki Langit Tanpa Pelangi” dan Antologi Cerita Pendek “Tokoh-Tokoh di Sekitar Kita” Beliau menambahkan bahwa karya tersebut merupakan aktualisasi diri dan euphoria dalam menulis di era literasi yang semakin menantang dan beragam.



Selain kedua buku antologi hasil kerjasama dengan KGPN, ternyata ada buku lain yang lebih dulu terbit, yaitu Antologi Puisi "Eksotis Bumi Trinil hingga Mojokertensis". Tetapi buku ini adalah hasil karya keroyokan dengan sesama guru.  Menurutnya ide menyusun antologi puisi ini muncul pada awal Desember 2019 ketika diundang oleh Hj. Ririn Dwiretnomaindah, penulis yang sudah melalang di jagad kepenulisan terlebih dulu. Penulis tersebut menawarkan untuk menyusun antologi puisi bersama sama. Akhirnya ada 11 guru tergabung dalam penyusunan antologi itu. Penulisan antologi ini dikomandani oleh Moh. Saroni, Kepala SMK Brawijaya Mojokerto. Alasan diberi judul antologi "Eksotis Bumi Trinil hingga Mojokertensis" karena penulisnya berasal dari Ngawi dan Mojokerto.


     Pak Kusfandiari pernah menyampaikan bahwa ada kegalauan menjelang masa pensiun. Namun kegalauan itu hilang ketika bertemu dan kenal dengan para penggerak literasi, terutama yang tergabung dalam KGPN. Mereka memotivasi agar sampai kapanpun tetap menulis. Menulis merupakan kegiatan yang menghidupkan pikiran dan akan memberi manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. (FB)